Home / Opini

Jumat, 12 Juli 2019 - 02:05 WIB

Jangan Galau, 8 Hal Positif Ini Dimiliki Seorang Tenaga Honorer

Ilustrasi

Ilustrasi

PDAM MAKASSAR

PUBLIKASIONLINE.CO – Meski tidak selalu benar, ada anggapan yang menyebutkan bahwa menjadi seorang tenaga honorer merupakan batu loncatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Memang sih, ada beberapa honorer yang diangkat langsung menjadi PNS setelah bertahun-tahun bekerja sebagai honorer. Namun, tak sedikit juga honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi masih tetap berstatus sebagai ‘tenaga kontrak’.

Harapan menjadi seorang PNS pun pupus setelah usia sudah mencapai batas maksimum sebagai salah satu syarat utama menjadi seorang abdi negara.

Gaji yang tak seberapa menjadi penyebab utama seorang tenaga honorer mengeluh saat kebutuhan hidup mulai mendesak.

Eits, jangan bersedih dan jangan mengeluh dulu, berikut ini adalah beberapa hal positif yang bisa kamu petik ketika kamu sudah terlanjur menjadi seorang honorer. Apa saja sih?

1. Ingatlah selalu bahwa kerja itu merupakan salah satu bentuk ibadah

Tak peduli apapun profesi dan jabatannya, bagi orang yang beriman, bekerja tentu saja merupakan salah satu bentuk ibadah. Ibadah bukan hanya kegiatan yang berhubungan langsung dengan Tuhan, namun segala bentuk kebaikan yang berurusan dengan makhluk di dunia juga merupakan bentuk ibadah.

Bekerja dengan tujuan menghidupi keluarga, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, bekerja untuk mencari rezeki yang disodaqohkan, bekerja untuk hal apapun sudah pasti akan bernilai ibadah.

Jika tujuan bekerja itu ibadah, seorang tenaga honorer tidak akan terbebani dengan peraturan dan kedisiplinan atas kebijakan yang dibuat pejabat publik (meski dengan nilai honor yang minim sekalipun).

2. Besar atau kecilnya gaji itu sangat relatif

Jangan salah, orang bergaji besar belum tentu bisa disebut kaya, lho. Pun sebaliknya, orang yang bergaji minim pun belum pasti hidup serba kekurangan. Ada banyak PNS dengan gaji dan tunjangan yang berjuta-juta namun hidup dengan himpitan hutang di sana-sini karena kebutuhan dan gaya hidup yang ‘wah’. Dan tak sedikit juga tenaga honorer yang bergaji ratusan ribu merasa hidupnya sudah berkecukupan karena selalu berpegang pada prinsip ‘bersyukur’.

Kaya harta tidak menjamin hidup kamu akan sejahtera, namun kaya hati sudah pasti akan membuat hidupmu bahagia. Percayalah, setiap manusia sudah memiliki takaran rezekinya masing-masing.

3. Bisa mencari penghasilan tambahan dengan leluasa

Karena beban kerja seorang tenaga honorer tidak seberat PNS, maka otomatis ada sedikit celah waku luang bagi honorer untuk mencari tambahan penghasilan diluar pekerjaan utamanya.

Bagi yang kreatif, akan ada saja jalan menjemput rezeki dengan mudah. Yang memiliki motor, bisa mendaftar menjadi tukang ojek online setelah pulang kerja atau hari libur. Bagi yang hobi menulis, bisa mendaftarkan diri menjadi anggota komunitas menulis artikel di media online dan mendapatkan penghasilan puluhan juta rupiah. Penggemar medsos dan content creator, bisa menjajal bakat menjadi seorang YouTuber dan selebgram atau sejenisnya.

Jadi, manfaatkan waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif bermanfaat yang bisa memberikan penghasilan.

4. Tak mengapa seragam dibedakan, asal tidak memelihara sifat sombong

Di beberapa daerah, perbedaan seragam antara tenaga honorer dengan PNS sudah mulai diterapkan, salah satunya di Pemprov Banten. Jika PNS berhak memakai seragam atasan dan bawahan berwarna cokelat khaki, maka honorer cukup memakai kemeja putih dengan bawahan cokelat khaki. Tak mengapa, itu merupakan salah satu ketentuan dan peraturan yang harus ditaati.

Siapa tahu, dengan adanya pemberlakuan aturan pakaian dinas tersebut, sifat sombong yang (tak sengaja) masuk dalam relung hati terdalam bisa sirna seketika dan berganti dengan kesederhanaan dan keikhlasan. Derajat manusia bukan ditentukan dari seragam atau emblem-emblem yang dipakainya kan?

5. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa-doa

Semua orang pasti tahu, doa merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki manusia karena berhubungan langsung dengan sang Pencipta.

Tidak ada satu kekuatan pun mampu menandingi ketentuan Tuhan. Tak mustahil seorang honorer bisa langsung diangkat menjadi PNS jika Tuhan mengizinkan.

Semua kemustahilan tersebut bisa saja terjadi karena kuatnya doa-doa yang dipanjatkan setiap waktu. Ketika keinginan belum terwujud, maka doa-doa pun akan terus terlantun dari mulut orang-orang yang berfikir.

Dan ketika keinginan belum juga terealisasi, maka doa-doa akan menjadi nilai ibadah yang indah. Jadi, jangan berhenti berdoa meski harapan-harapan dan keinginan belum tercapai dan menjadi kenyataan.

Dekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, maka Tuhan pun akan dekat denganmu dengan ‘kekuatannya’.

6. Mencuatkan semangat kebersamaan antara sesama honorer karena merasa satu nasib

Merasa senasib karena memiliki penghasilan yang tak seberapa ternyata bisa mencuatkan semangat kebersamaan antara sesama pegawai honorer, lho.

Atas dasar itulah, diadakan forum-forum honorer, pertemuan, hingga grup-grup media sosial sejenis WhatssApp. Di dalam grup WhatssApp, kamu bisa menemukan beragam jenis karakter para honorer yang ada di muka bumi.

Ada yang suka posting kalimat-kalimat bijak ala Mario Teguh, ada si silent reader, ada penulis dan pencipta konten medsos pencari viewers dan subscribers, ada si penyebar berita berpotensi hoax, ada penceramah ala Aa Gym, ada pula yang hanya sekadar komentar “oh”. Apapun jenis postingan di grup WA, yang penting jangan menyinggung satu golongan yang bisa mengurangi semangat kebersamaan.

Berbeda itu fitrah, silang pendapat itu lumrah. Yang tidak wajar adalah jika satu golongan merendah-rendahkan golongan yang lain dengan mengorek-ngorek segala kekurangannya. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di dunia?

7. Hidup tidak melulu tentang uang, uang dan uang saja kan?

Sobat, uang itu penting, namun tidak semua kepentingan bisa diselesaikan dengan uang. Uang juga memang bisa memberikan kebahagiaan, tapi tidak semua kebahagiaan bisa didapat dengan uang.

Ada kebahagiaan hakiki yang bisa dirasakan dalam hidup tanpa perlu harus menghubung-hubungkannya dengan hal yang sifatnya materi dan keduniawian.

Meski dengan uang kamu bisa membeli apapun yang kamu mau, tapi hidup tidak melulu tentang uang kan? Lagipula, jika kamu mati apa uang yang kamu kejar-kejar setengah mati saat hidup di dunia akan kamu bawa ke alam kubur?

8. Masih banyak PNS baik hati yang ‘menyisihkan’ tunjangannya kepada honorer

Nah, ini nih yang menjadi hal paling penting dari kesenjangan sosial antara gaji PNS dan gaji seorang honorer.

Di antara jerit keluhan para honorer karena gaji yang mencekik, akan selalu saja ada PNS-PNS baik hati yang ‘ikut merasakan’ suasana hati para honorer. Ketika mendapat tunjangan ini-itu, para PNS baik hati ini akan menyisihkan sebagian rupiahnya untuk honorer.

Meski tidak seberapa, nilai keikhlasan yang didapat dari hal ini tentu saja akan mencuatkan semangat kerjasama yang baik dalam urusan pekerjaan. Meski hanya berbentuk beberapa gorengan dan segelas kopi serta sebungkus nasi padang, hal tersebut tidak menciutkan semangat kebersamaan antara sesama pegawai, apapun statusnya.

Meski masih berstatus sebagai tenaga honorer dengan gaji yang minim, semangat kerja tetap harus tertanam dalam jiwa.

Percayalah, gaji besar bukan merupakan jaminan kesejahteraan dan kebahagiaan yang paling dicari dalam hidup. Harta itu ibarat air laut, makin diminum makin haus, semakin nafsu merajalela. Kuncinya hanya satu yakni selalu bersyukur. (idntimes)

PDAM MAKASSAR

Share :

Baca Juga

Opini

Mahasiswa dan Tindakan Aparat

News

Inovasi Tata Kelola Desa Memerlukan Perguruan Tinggi

Opini

Klan Yasin Limpo Gagal Rebut Parlemen, Apakah Dinasti Rapuh?

Opini

Berbahaya, Ini Dia Tiga Penyebab Pasangan Batal Nikah
Yuniarti (Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta)

News

Pengelolaan Anggaran Penanganan Covid-19 Harus Transparansi

Nasional

Begini DPP-KPN Memaknai Hari Lahir Pancasila

Opini

Masyarakat dan Polri Bersatu Menghadirkan Pilkada Damai

News

Catatan Kelam Warga untuk Huadi