Padewakang, Perahu Besar dari Pahatan Tangan Panrita Lopi

Editor : |

Jumat, 8 November 2019 - 01:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bulukumba – Hampir tak pernah digunakan, bahkan tak pernah lagi terlihat. Sebuah perahu khas orang Sulawesi Selatan bernama Padewakang.

Panrita Lopi atau dalam Bahasa Indonesia berarti pengrajin perahu, memang pantas disematkan bagi Kabupaten Bulukumba. Di sana, dari tangan-tangan pengrajin lahir perahu yang mampu mengarungi lautan Eropa kala itu. Satu yang santer terdengar saat ini adalah Pinisi.

Tapi tahukah anda kalau Pinisi merupakan evolusi dari Padewakang? Mungkin saat ini kebanyakan orang tak mengenal perahu jenis Padewakang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebanyakan pengrajin perahu sudah tidak memproduksi lagi Padewakang, padahal perahu tersebut lebih dulu hadir daripada perahu Pinisi. Boleh dikata lebih tua ketimbang Pinisi.

Tenaga Ahli Kemenko Maritim RI, Dr. Horst H Liebner memastikan Padewakang merupakan kapal tradisional pendahulu Pinisi.

Dari berbagai referensi yang ada, perahu Padewakang ini terbilang unik. Sebab mempunyai layar khas perahu Austronesia, yaitu layarnya berjenis Tanjaq yang berbentuk segi empat.

Desain perahu itu, pernah dikumpulkan oleh Horst dari hasil riset, catatan sejarah, relief Borobudur dan berbagai foto klasik. Desain itu diperkuat oleh tangan-tangan dan pengetahuan Panrita Lopi di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kabarnya perahu kayu berukuran panjang 12 meter dan lebar 3 meter itu masih terpajang megah di museum La Boverei di Kota Liege, Belgia.

Horst pernah menyebut, Padewakang ini adalah pendahulu Pinisi. Evolusi itu tidak berjalan dengan sendirinya. Pada abad ke-19, Nusantara makin banyak didatangi kapal-kapal Eropa.

Para pengrajin perahu dan pelaut pun mengadopsi jenis layar Eropa ke Padewakang.

Padewakang ini, konon tercatat sebagai nama perahu asal Sulawesi pada akhir abad ke-17. Kapal itu difungsikan VOC antarsurat dan sebagai kapal patroli.

Dalam catatan syahbandar VOC sendiri, Padewakang itu dimiliki oleh saudagar asal Sulawesi. Dahulu kala, kapal itu digunakan pelaut Indonesia untuk eksplorasi kawasan Australia pada abad 17-18. Termasuk dalam pelayaran historis pencarian taripang.

Peristiwa itu kemudian menjadi referensi dalam sejarah hubungan maritim Australia-Indonesia sebelum kedatangan orang Eropa.

Horst menggarisbawahi pentingnya peran pelaut Nusantara dalam eksplorasi Australia.

Tidak heran, replika perahu itu menjadi salah satu kebanggaan Indonesia yang ditampilkan pada pameran “Europalia, Liege, Belgia” pada 2017 lalu.

Padewakang kini telah jadi di tangan Panrita Lopi. Kabarnya ditempa di kawasan pembuatan perahu, Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pelaut Indonesia akan kembali mengarungi lautan dari Bulukumba menuju Australia dengan menggunakan Padewakang tanpa mesin itu pada Desember mendatang.

Rencananya dari Bulukumba berangkat menuju Makassar pada 22 November dan 1 Desember berlayar ke Australia. Bertepatan dengan peringatan 250 tahun kedatangan Kapten James Cook di Australia Timur pada 1770 masehi.

Aboriginal (pribumi Australia) ingin menunjukkan nenek moyangnya punya rekan di Sulawesi, jauh sebelum orang barat menginjak tanah mereka.

Horst menyebut, salah satu aspek pada pelayaran nanti, untuk mengenang hubungan Australia-Indonesia yang erat kaitannya dengan Islam.

“Tujuh puluh tahun sebelum James Cook, pelaut Sulawesi sudah lebih dulu ke Australia. Semua itu tujuannya untuk menyadarkan khayalak Australia bahwa sejarah Australia itu berwarna warni, dan bahwa Islam dan orang Sulawesi punya andil yang cukup besar dalam sejarah itu,” ungkap Horst.

Pada Sabtu 9 November 2019 nanti, akan dilaksanakan peluncurannya ke laut yang dikenal dengan tradisi Annyorong Lopi. Peluncuran perahu, kata Horst, dirangkaikan peringatan maulid oleh warga setempat.

“Tim membuat ulang perahu Padewakang mendasari dua maket perahu koleksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dibuat 1821 serta beberapa lukisan awal abad ke 19, dan juga dari deskripsi mendetail,” ungkapnya.

Pelayaran Napak Tilas ini diselenggarakan oleh Yayasan Abu Hanifah Institute, Sydney-Australia sekaligus yang mendanai pembuatan Padewakang.

Pelayaran ini dimaksudkan untuk melestarikan tradisi dan pengetahuan pembuatan perahu yang dimiliki turun temurun, serta menunjukkan peran pelaut Sulawesi Selatan dalam menemukan Australia.

Sekaligus sebagai bentuk diplomasi budaya maritim, juga mengangkat nama Indonesia sebagai bangsa pelaut.

(Tagar.id)

Facebook Comments Box

Editor :

Berita Terkait

Diduga Cemarkan Nama Baik, Owner Dwiaffor Diaporkan Ke Polisi
BREAKING NEWS: Kejari Tetapkan Tersangka Tiga Pimpinan dan Sekwan DPRD Bantaeng
Inovasi Jedar Saskia PKM Pa’bentengang, Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Bantaeng
Warga Kampung Bangkulawang Minta Ilham Azikin Kembali Pimpin Bantaeng
Presentasi PKRI 2024, Inovasi RAJA SMILE Bantaeng Paparkan Keunggulan Layanan Kesehatan
Huadi Group – Yayasan Melatis Kompak Dampingi Warga Bantaeng
KNPI Sinjai Selatan Bakal Gelar Turnamen Sepak Bola, Ini Jadwal Pendaftarannya!
PLN Apresiasi Huadi Group Atas Kontribusi Ekonomi Nasional dan Lokal

Berita Terkait

Selasa, 16 Juli 2024 - 23:36 WITA

Diduga Cemarkan Nama Baik, Owner Dwiaffor Diaporkan Ke Polisi

Selasa, 16 Juli 2024 - 19:06 WITA

BREAKING NEWS: Kejari Tetapkan Tersangka Tiga Pimpinan dan Sekwan DPRD Bantaeng

Selasa, 16 Juli 2024 - 15:31 WITA

Inovasi Jedar Saskia PKM Pa’bentengang, Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Bantaeng

Senin, 15 Juli 2024 - 18:33 WITA

Warga Kampung Bangkulawang Minta Ilham Azikin Kembali Pimpin Bantaeng

Senin, 15 Juli 2024 - 18:00 WITA

Presentasi PKRI 2024, Inovasi RAJA SMILE Bantaeng Paparkan Keunggulan Layanan Kesehatan

Minggu, 14 Juli 2024 - 20:32 WITA

KNPI Sinjai Selatan Bakal Gelar Turnamen Sepak Bola, Ini Jadwal Pendaftarannya!

Minggu, 14 Juli 2024 - 18:16 WITA

PLN Apresiasi Huadi Group Atas Kontribusi Ekonomi Nasional dan Lokal

Minggu, 14 Juli 2024 - 14:28 WITA

Kolaborasi Wahdah Islamiyah dan Klinik Assyfah, BAZNAS Bulukumba Gelar Khitanan Massal 

Berita Terbaru

Hukum dan Kriminal

Diduga Cemarkan Nama Baik, Owner Dwiaffor Diaporkan Ke Polisi

Selasa, 16 Jul 2024 - 23:36 WITA