Begini Penampakan Dalam Ruangan Keraton Agung Sejagat, dari Warna Hingga Lambang NAZI

Editor : |

Rabu, 15 Januari 2020 - 20:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Singgasana yang diduduki raja agung sejagat. (Ist)

Singgasana yang diduduki raja agung sejagat. (Ist)

PURWOREJO – Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo menggegerkan warga. Bahkan bangunan yang disebut istana sempat menjadi tempat wisata dadakan.

Bangunan di Desa Pogung Jurutengah, Bayang Purworejo didirikan di atas sebuah bangunan rumah yang disulap mirip keraton.

Pada gambar yang tersebar di berbagai meddia sosial, istana itu dilengkapi sepasang singgasana yang didominasi warna hitam, merah dan kuning.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Singgasana ditempatkan di tengah ruangan sebagai ruang pertemuan raja dan ratu.

Tak hanya itu, di dalam ruangan terdapat beberapa lambang nazi berwarna emas yang dipajang Walaupun bagian dalam istana tampak singgasana mewah, namun bagian luar bangunan rumah terlihat biasa saja.

Tidak ada lambang khusus di luar bangunan yang menunjukkan adanya kerajaan di tempat tersebut.

Istana Keraton Agung Sejagat didirikan di rumah dan lahan Cikmawan (53) warga asli RT 3 RW 1 Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan. Cikmawan adalah Adipati Djajadiningrat dan bagian dari punggawa keraton dan juga koordinator ndalem Keraton Agung Sejagat. Dilansir dari Tribunnews.com, di halaman istana terdapat bangunan kerangka mirip tiang dari kayu yang berdiri kokoh.

Masyarakat sekitar menyebut bangunan tersebut bakal untuk pendopo. Tidak jauh terdapat sebuah kolam yang memiliki sumber air yang tidak terlalu jernih.

Di sudut lain, terlihat sebuah batu besar yang diletakkan di pendopo kecil sehingga tidak terkena hujan dan panas secara langsung.

Di batu tersebut ada ada ukiran huruf Jawa yang artinya Bumi Mataram Keraton Agung Sejagat. Prasasti tersebut dibuat oleh Wijoyo Guni sekitar tiga bulan yang lalu.

Selama 2 minggu, Wijoyo mengukir cakra, trisula, macan, serta gambar telapak kaki dan beberapa simbol siang malam. Di bagian bawah batu terdapat ukiran baruna naga Saat pertama kali di bawa ke rumah Cikmawan, batu yang disebut Prasasti 1 Bumi Mataram itu dibungkus kain putih. (Kompas)

Facebook Comments Box

Editor :

Berita Terkait

Nurkanita Kahfi: Pemuda Berperan Penting dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Bantaeng
Semarak Hari Anak Nasional, Bunda PAUD Terus Upayakan Pendidikan dan Pengasuhan Terbaik
Bawaslu Bantaeng Gelar Pembinaan Penyelesaian Sengketa, Ketua: Agar Profesionalisme
Dorong Peningkatan SDM, KT Desa Bonto Cinde Gelar Pelatihan LKKP
Tingkatkan Pelayanan Ibu Bersalin, PKM Campagaloe Lahirkan Inovasi SASKIA PUBER
Pengusaha Kalimantan asal Bantaeng Ajak Warga Nipa-Nipa Dukung Ilham Azikin
Tanam Pohon Bersama Dandim 1410 Bantaeng, Kades Bonto Lojong: Hijaukan Lingkungan
Atlet Badminton Putri Bantaeng Juara O2SN SMA/MA Tingkat Sulsel
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 21 Juli 2024 - 11:17 WITA

Nurkanita Kahfi: Pemuda Berperan Penting dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Bantaeng

Sabtu, 20 Juli 2024 - 22:49 WITA

Semarak Hari Anak Nasional, Bunda PAUD Terus Upayakan Pendidikan dan Pengasuhan Terbaik

Sabtu, 20 Juli 2024 - 22:44 WITA

Bawaslu Bantaeng Gelar Pembinaan Penyelesaian Sengketa, Ketua: Agar Profesionalisme

Sabtu, 20 Juli 2024 - 15:45 WITA

Dorong Peningkatan SDM, KT Desa Bonto Cinde Gelar Pelatihan LKKP

Sabtu, 20 Juli 2024 - 15:18 WITA

Tingkatkan Pelayanan Ibu Bersalin, PKM Campagaloe Lahirkan Inovasi SASKIA PUBER

Jumat, 19 Juli 2024 - 22:41 WITA

Tanam Pohon Bersama Dandim 1410 Bantaeng, Kades Bonto Lojong: Hijaukan Lingkungan

Jumat, 19 Juli 2024 - 21:15 WITA

Atlet Badminton Putri Bantaeng Juara O2SN SMA/MA Tingkat Sulsel

Jumat, 19 Juli 2024 - 16:42 WITA

Pj. Bupati Andi Abubakar Hadiri Pertemuan Dengan Menteri PAN-RB

Berita Terbaru