Kolam Renang Putri Duyung Ancam Kelangsungan Hidup Petani

Pembangunan kolam renang Putri Duyung di Bantaeng terkatung-katung, meski dengan kucuran anggaran besar.

Pembangunan kolam renang Putri Duyung di Bantaeng terkatung-katung, meski dengan kucuran anggaran besar.

Bantaeng – Aliansi Pemuda Pattalasang menyayangkan adanya pembangunan kolam renang Putri Duyung di Desa Pattalasang, Kecamatan Tompobulu, kabupaten Bantaeng. Sebab, pada pembangunan itu tak memikirkan keberlangsungan hidup dan dampak yang bisa dialami petani jika nantinya beroperasi.

“Debit air di sini sangat kecil, hanya cukup untuk petani saja. Kalau dibangun kolam renang, maka air tidak cukup,” kata Irfan Adriadi saat dijumpai, Rabu, 22 April 2020.

Dia menambahkan, ada sekitar 10 hektarare persawahan yang terancam kekurangan air lantaran menggunakan jalur pangairan yang sama.

Selain menyoal dampak bagi petani persawahan, permasalahan lain adalah pembangunan yang tak kunjung selesai hingga saat ini.

Padahal rencana proyek yang menelan biaya hingga Rp. 415 juta bersumber dari Dana Desa (DD) tersebut, sedianya sudah rampung sejak Desember 2019 lalu.

Olehnya itu, Pemuda Pattalasang melaporkan kejanggalan ini ke Inspektorat Bantaeng.

“Masyarakat cukup resah dalam hal ini, penggunaan anggaran yang cukup besar namun realisasinya belum juga rampung, hanya sebatas pondasi saja,” beber Irfan.

Mereka menduga ada korupsi Dana Desa, lantaran pemerintah Desa Pattalasang yang dikepalai oleh Subhan tidak transparan dalam pengelolaan proyek itu.

Terpisah, Kepala Desa Pattalasang, Subhan mengatakan, yang melaporkan pembangunan sarana dan prasarana wisata yang dibangunnya itu adalah orang-orang yang mencoba mencari kesalahan.

“Mereka tidak tahu permasalahan itu dan kondisi desa, orang itu mencari kesalahan. Yang punya lahan (sawah) di situ, mengancam bahwa kalau kolam renang jadi, maka persawahan akan mati,” ujar Subhan dalam sambungan telepon.

Sedangkan untuk anggaran pembangunan kolam renang putri duyung, kata Subhan, bukan hanya untuk pembangunan fisik saja, akan tetapi ada juga untuk penggajian pekerja dengan pemodelan padat karya.

Selain itu, anggaran mencapai Rp415 juta tersebut belum termasuk PPN dan perencanaan, jadi kemungkinan pembangunan fisik itu hanya tersisa sekitar Rp100 juta.

“Anggarannya memang sekitar Rp 415 juta akan tetapi itu bukan untuk fisik saja, ada pembayaran pajak, perencanaan dan gaji. Jadi kemungkinan untuk fisik tersisa sekitar Rp100 juta saja,” jelasnya.

Selain itu dia juga mengaku sudah diperiksa dan dilakukan audit oleh Inspektorat.

“Setelah pemeriksaan inspektorat, sementara yang jadi temuan cuman pipa yang tidak terpasang sama stop kerang. Tapi sudah ada barang. Namun itu nanti dipasang kalau air sudah mengalir karena takutnya ada yang curi,” beber Subhan.

Ihwal debit air kurang bagi petani, Subhan menyebut bahwa pembuangan air pada kolam renang tersebut akan dibuka untuk dibiarkan mengalir ke persawahan warga.


Bagaimana Tanggapan Anda?


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA